Twitter

Mengapa “ urang minang” senang berdagang ?

Author Unknown - -
Home » » Mengapa “ urang minang” senang berdagang ?


Mengapa “ urang minang” senang berdagang ? Jika pertanyaan yang sama ditujukan kepada komunitas bangsa Cina, maka jawaban mereka pasti berbeda dengan jawaban urang minang.
Mengapa ? motivasi “urang minang” berdagang karena ingin melawan dunia orang – suatu tema yang mengandung amanat untuk hidup bersaing terus menerus mencapai kemuliaan, kenamaan, kepintaran dan kekayaan.

Bagi bangsa Cina, lintasan yang dilaluinya dalam merambah dunia melebihi lintasan yang dilakukan oleh perantau Minang. Dibelahan dunia manapun kita menemukan bangsa Cina berprofesi sebagai pedagang.Bahkan secara khusus, mereka membuat dan memproduksi keperluan pernak-pernik yang bercirikan khas Negara-negara didunia untuk keperluan turis, suku cadang, dan material lainnya, yang diproduksi dari negaranya.

Filosofi bangsa Cina dalam berdagang pasti berbeda dengan “ urang minang”. Orang Minang berpolakan prinsip bagi hasil pada system anak semang dan induk semang. Sementara bangsa china menganut pola berjenjang.

Pada “urang minang” – profesi sebagai pedagang, merupakan salah satu diantara aktualisasi peran fungsional dalam mencari nafkah hidup. Menjadi Saudagar, adalah suatu cita-cita. Fungsi ini akan berbeda diantara profesi yang lain, karena ada yang menjadi ; petani, tukang, penghulu, ulama, dll.
Kita ingat akan falsafah alam yang menjadi pedoman hidup “urang minang”, yaitu ;
Nak mulia batabua urai,
Nak tuah tagak di nan manang,
Nak cadiek sungguah baguru,
Nak kayo kuaik mancari.
Maksudnya, agar setiap orang berusaha sekuat tenaga agar memperoleh kemuliaan dan kedudukan yang berarti dan penting.

Keunggulan “urang minang” dalam berdagang, karena adanya hasil produksi yang mesti dijual keluar Nagari. Dahulu, cara berniaga pun mulanya dengan membawa barang pada bahu atau secara pikulan dengan jalan beriringan beramai-ramai agar tidak dirampok diperjalanan.
Kemudian istilah berniaga berkembang menjadi berbagai istilah sesuai dengan produk dagangan mereka, seperti ;
- saudagar yang spesialisasinya jual beli barang pecah belah disebut “ manggaleh”,
- penjual ternak dan daging disebut jagal – jaga – bajaga.
- Bagi “urang minang”, yang berjualan dengan cara menjunjung keranjang barang (katidiang) diatas kepalanya disebut jojo – bajojo (jaja).

Yang diperdagangkan adalah setiap kegiatan usaha yang bersifat individu, berupa barang-barang kerajinan dan industri, seperti ; peralatan produksi, perkakas rumah tangga termasuk makanan dan masakan.

Di setiap Nagari memiliki spesialisasi dalam berproduksi, seperti :
- Kerajinan emas dan perak berasal dari Nagari Koto Gadang dan Guguk,
- Sulam dan jahit, seperti konveksi, berasal dari Nagari Empat Angkat, Koto Gadang,
- Pandai besi, berasal dari Sungai Puar,
- Pertenunan yang terkenal dari Silungkang dan Pandai Sikat.
- Tilam yang terkenal, buatan orang Bayur.

Melihat jenis barang yang diperdagangkan memiliki spesialisasi pula, antara lain ;
- perdagangan tembakau oleh orang Sianok,
- Kain, oleh orang Maninjau dan Balingka,
- Ternak, oleh orang Pitalah dan Koto Enau,
- Perdagangan kelontong,oleh orang Kumango, oleh sebab itu perdagangan kelontong disebut perdagangan kumango.

Demikian pula dalam hal makananpun “urang minang”, memiliki spesialisasi, yaitu ;
- gelamai (dodol) dari Payakumbuh,
- kerupuk dari Sanjai,
- lemang dari Pitalah,
- kedai nasi dari Kapau dan Sumpur,

Begitu banyak keunggulan produk dagangan “urang minang” dari sejak zaman dahulu hingga sekarang, maka etnis ini terkenal ulet, sehingga mampu menyaingi pedagang Cina…

Nah.. sekarang istilah kegiatan berdagang yang dilakukan oleh Saudagar telah berubah menjadi “Pengusaha”, yang kegiatannya adalah ber wira usaha, wira swasta. Selain itu terdapat pula profesi yang dikembangkan dari disiplin ilmu tertentu, seperti menjadi : Notaris, advokat dan pengacara, akuntan,dll. Sepertinya menjadi seorang profesioanl adalah lebih cocok bagi “urang minang “ demi melawan dunia orang. Maka menyebarlah engkau, wahai “ urang minang “ selagi di kampuang berguna belum. Namun ingatlah selalu ranah minangmu.

Artikel Terkait:

4 Responses so far.

  1. Unknown says:

    satiok urang minang nan marantau , mungkin labiah banyak nan badagang (manggaleh).

  2. ju hendri says:

    Setiap perantau minang keluar kandang, tidak ada lagi selain menggaleh atau dagang... terkecuali yang sekolah tinggi diluar kebanyakan malah tidak balik kampung. Lebih suka lamar kerja diluar daripada pulang kampuang.. Lulusan sekolah tinggi yg ga mau balik inilah yang jadi cikal bakal birokrat dirantau, itupun kalau pandai pandai bawa diri dirantau orang bisalah dapat jabatan tinggi.

  3. Unknown says:

    Emang rasluh ajah orang minang yang unggul

  4. Unknown says:

    Anjing luh bangsat orang minang penjajah bangsat