MINANG KABAU

  • RSS
  • Skype
  • Facebook
  • Yahoo

Twitter

BUKITTINGGI — Hirwandi Imam & Ery Satria — Bukittinggi kini berjuluk Kota Perjuangan. Sapaan terbaru tersebut dilatarbelakangi eksistensinya dalam berbagai episode perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan, terutama masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) 1948-1949. Pencanangan sebagai Kota Perjuangan tersebut dilakukan saat upacara peringatan Hari Bela Negara (HBN) 2014, Jumat (19/12) di Lapangan Wirabraja, Bukittinggi. Upacara diikuti jajaran TNI, Polri, korps veteran, keluarga pejuang, DHD 45, Korpri, mahasiswa dan pelajar. Selain itu pada panggung utama juga nampak keluarga Mr. Syafrudin Prawiranegara, sastrawan Taufiq Ismail dan anggota DPR-RI Ade Rezki Pratama yang notabene warga Bukittinggi. Pencanangan Bukittinggi sebagai Kota Perjuangan dilakukan Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon. Menurut politisi Partai Gerindra itu, Bukittinggi memiliki peran yang sangat strategis dalam sejarah perjuangan bangsa. Republik Indonesia belum tentu ada kelanjutannya tanpa Bukittinggi. Sebab, melalui PDRI yang lahir di Bukittinggi eksistensi Indonesia tetap ada walaupun pemimpin bangsa ditawan penjajah. “Bukittinggi memiliki saham yang besar terhadap Republik Indonesia,” kata Fadli Zon menjawab wartawan di sela-sela peringatan HBN yang diwarnai hujan gerimis pagi itu. Saham demikian itu, lanjut dia dalam bentuk perjuangan yang dilakukan oleh para pejuang pada era PDRI dengan tekad mempertahankan kemerdekaan dan mengusir kolonialis. Mr. Syafrudin Prawiranegara selaku Menteri Kemakmuran yang berada di Bukittinggi saat Yogyakarta diduduki Belanda dan pemimpin ditawan mendapat mandat dari Soekarno dan Mohammad Hatta untuk membentuk PDRI. Setelah pembentukan 19 Desember 1948 di Bukittinggi, barulah perjuangan secara mobile dilaksanakan di Halaban, Koto Tinggi, Sumpur Kudus sampai Bidar Alam. Bukittinggi juga telah melahirkan tokoh-tokoh nasional yang kemudian berkiprah dalam perjuangan bangsa, seperti Agus Salim, Bung Hatta, Hamka dan lainnya. Selain tempat lahir dan ibukota PDRI, Bukittinggi juga mengemban fungsi sebagai ibukota Provinsi Sumatera dengan Gubernur Mr. Muhamad Rasyid, kemudian ibukota Sumatera Tengah dengan daerah Riau, Jambi dan Sumbar serta ibukota Sumatera Barat. Dari peran dan eksistensi yang diemban dari sejarah yang demikian panjang itu, sudah pada tempatnya Bukittinggi ditetapkan sebagai Kota Perjuangan. Pada upacara HBN berlangsung hikmad itu Walikota Ismet Amzis bertindak selaku inspektur upacara. Nilai-nilai kejuangan yang pernah diemban Bukittinggi di masa lampau seolah-olah membahana kembali manakala sastrawan Taufiq Ismail membacakan puisi-pusinya. Pemberian julukkan sebagai Kota Perjuangan bagi Pemko Bukittinggi dan masyarakatnya, menurut Ismet Amzis tidak sebatas menjadi inspirasi, melainkan juga motivasi untuk mengabadikan nilai-nilai sejarah yang pernah diemban di masa lalu. Lalu, Ismetpun menwarkan solusi nantinya akan memasukkan sejarah Bukittinggi di pentas perjuangan era kemerdekaan itu sebagai kurikulum di sekolah-sekolah. “Sejarah kita harus jelas, karenanya semua warga Bukittinggi harus mengetahuinya,” ujarnya. Di Silang Monas Sementara itu Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan bentuk bela negara yang perlu dilakukan saat ini, melawan dan membebaskan bangsa kita dari kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan dan ketergantungan. Apalagi, katanya, ancaman terhadap kedaulatan bangsa dari luar tidak hanya bersifat fisik, tapi sudah mengarah pada ancaman multidimensi. Amanat Presiden dibacakan Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Tedjo Edhy Purdijatno dalam upacara peringatan Hari Bela Negara (HBN) 2014 di Lapangan Silang Monas, Jakarta, Jumat (19/12) pagi. Bentuk bela negara lainnya, menurut Tedjo Edhy yakni mewujudkan kedaulatan pangan, berdiri di atas kaki sendiri, profesi guru bidan dan tenaga kesehatan di daerah pelosok, perbatasan dan pulau terluar sesungguhnya bela negara. Upacara peringatan Hari Bela Negara diwarnai dengan pengibaran bendera Merah Putih terbesar di Indonesia. Pengibaran bendera ini dipimpin mantan petinju kelas dunia Chris John. Pengibaran bendera dimulai dengan aksi terjun dengan tali dari puncak Monas, menuju ke pelataran cawan Monas yang dilakukan oleh 3 orang anggota TNI. Mereka adalah Letda (inf) Jatmiko, Serda Marpaung dan Serda Joko. Bendera raksasa berukuran panjang 58 meter, lebar 38 meter dan luas 2.250 meter.

Sumber: hariansinggalang.co.id

Gunung yang terletak di propinsi Sumatera Barat tepatnya di Kabupaten Pasaman Barat ini, merupakan satu dari beberapa gunung yang mempunyai panorama alam yang menarik di daerah Minang Kabau. Dengan ketinggian 2982m dpl menjadikannya sebagai puncak tertinggi daerah Sumatera Barat. Gunung ini bisa didaki dari desa Pinaga. Gunung Talamau mempunyai keunikan tersendiri yaitu pada puncaknya terdapat banyak telaga, dan umumnya jumlah telaga tersebut selalu berbeda-beda dan tidak selalu sama setiap dijumpai para pendaki. Jumlah yang umum terlihat adalah 13 telaga. Gunung Talamau berdekatan sekali dengan Gunung Pasaman hanya dipisahkan oleh sebuah sungai. Dari daerah puncak Gunung Talamau kita bisa melihat dengan jelas puncak Gunung Pasaman, atau yang dikenal juga dengan sebutan sebagai “Puncak Rajo Imbang Langik” yaitu nama yang diambil dari nama seorang raja yang pernah bertahta di daerah Pasaman ini pada dulunya.
Untuk mencapai puncak Gunung Talamau kita akan melewati 6 pos. Dari puncak gunung Talamau kita bisa menyadel atau turun dan naik ke Gunung Pasaman. Penduduk disekitar gunung Talakmau ini hidup dengan mata pencaharian bertani dan mayoritas beragama Islam. Gunung ini lebih terawat dibadingkan dengan gunung Marapi dan Singgalang. Jauh lebih bersih, ini tidak lepas dari dedikasi penduduk setempat yang selalu menjaga keasrian dan kebersihan Gunung Talakmau dari pendaki-pendaki yang tidak bertanggung jawab. Untuk Akomodasi yang ada dan tidak jauh dari gunung ini adalah Hotel Hamco dan Wisma Yanti di Padang Tujuh yang berjarak sekitar 3 km dari desa Pinaga. Selain itu juga terdapat lokasi Camping Ground di Bukit Harimau Campo yang tidak jauh dari lokasi air terjun Puti Lenggo Geni.
Selain keindahan alamnya gunung ini juga banyak menyimpan cerita-cerita menarik yang berasal dari legenda yang dipercaya oleh penduduk setempat. Seperti contoh saat kita memasuki Padang Siranjano, diwajibkan untuk membaca “Assalamualaikum” karena dipercaya didaerah tersebut dihuni oleh seorang Kyai. Dan juga nama-nama puncak dan telaga di gunung ini juga diambil berdasarkan beberapa cerita legenda yang diyakini oleh penduduk disekitar gunung Talamau ini.
AKSES TRANSPORTASI
Dari kota Padang desa Pinaga yang merupakan desa titik awal pendakian bisa dicapai dengan menggunakan Bus “PERSADA”. Ongkosnya adalah Rp.10.000,- Jika dari kota Bukit Tinggi, kita harus naik bus trayek Simpang Ampek dengan ongkos Rp.9.000,- kemudian dilanjutkan dengan menumpang “KERI” (sejenis angkot) dengan ongkos Rp.3.000,- dan jarak tempuhnya kurang lebih 10km. Jalur resmi menuju puncak Gunung Talamau adalah dari desa Pinaga akan tetapi juga ada pilihan jalur pendakian lainnya yaitu dari Desa Durian Kandang Aia Maruek. Jalur ini akan meuju puncak Gunung Pasaman terlebih dahulu kemudian baru menyadel ke puncak Gunung Talakmau. Jika kita mendaki dari desa Pinaga dan turun didesa Durian Kandang, akan memakan waktu kurang lebih 5 hari.

RUTE PENDAKIAN POSKO 1 DESA PINAGA 320m dpl
Desa Pinaga yang berada pada ketinggian 320m dpl. Posko 1 berada tidak jauh dari jalan raya Simpang Empat – Panti. Dari Posko 1 menuju Posko 2 atau yang berada di Bukit Harimau Campo, akan melewati 4patok kilometer yaitu Km14, Km13, Km12, Km11. Keadaan jalan dari Posko 1 ke Posko 2 merupakan jalur jalan gerobak. Selain itu kita juga akan melewati persawahan dan perladangan penduduk.

POSKO 2 PONDOK BUKIK HARIMAU CAMPO 710m dpl
Perjalan dari Posko 1 hingga sampai ditempat ini sekitar 2,5 jam. Posko 2 ini berada pada ketinggian 710m dpl. Ditempat ini terdapat sebuah pondok yang dihuni oleh seorang pendaki asal Sumatera Barat yang merupakan seorang volunter yang merawat dan memelihara gunung Talamau ini. Tidak jauh dari lokasi ini kita bisa menemukan sebuah air terjun yang cukup besar bernama air terjun Puti Lenggo Geni.

POSKO 3 PONDOK RINDU ALAM 1100m dpl
Posko ini dikenal juga dengan nama Sari Bunyibunyian karena pada tempat ini kita mendengar aneka bunyi seranga dan burung-burung. Posko dengan ketinggian 1100m dpl ini berjarak waktu tempuh dari pos sebelumnya sekitar 2,5 jam. Di pos ini kita tidak menemukan adanya pondok kecuali sebuah tanah datar dan juga di pos ini terdapat sumber mata air berupa sungai kecil , sehingga kita bisa mengisi perbekalan air.

POSKO 4 BUMI SARASAH 1860m dpl
Setelah menempuh perjalanan selama lebih kurang 3 jam maka kita akan sampai di pos Bumi Sarasah. Disini terdapat sebuah pondok tanpa dinding. Dilokasi pos ini juga kita bisa menemukan sumber mata air berupa sungai kecil yang mengalir jernih. Posko ini berada pada ketinggian 1860m dpl.

POSKO 5 PANINJAUAN 2500m dpl
Pos ini berjarak tempuh sekitar 2 jam 25 menit dari pos sebelumnya serta juga mempunyai sumber mata air . Jalan setapak dari posko Bumi Sarasah hingga posko Paninjauan ini sedikit lebih curam dibandingkan keadaan jalan setapak sebelumnya. Di pos ini kita bisa menemukan sebuah pondok beratap seng tanpa dinding. Tidak lama kemudian kita akan memasuki daerah.

BASECAMP RAJAWALI PUTIH 2880m dpl
Dari posko 5 menuju basecamp Rajawali Putih berjarak tempuh sekitar 75 menit. dan setelah melewati tanjakan yang cukup curam maka kita akan sampai disebuah dataran padang rumput yang bernama “Padang Siranjano” tidak lama setelah kita menempuh dataran luas ini maka kita akan menemukan telaga-telaga yang berjumlah 13 buah. selain itu juga puncak utama gunung Talamau ini juga sudah terlihat. Lokasi dekat telaga-telaga ini sangat cocok dijadikan sebagai tempat mendirikan tenda. Puncak Tiang trianggulasi yang hancur Puncak Tri Martha 2982m dpl Gunung Talamau ini mempunyai 3 buah puncak yaitu puncak utama bernama Trimarta, puncak Kedua Puncak Rajawali dan Puncak Ketiga bernama Puncak Rajo Dewa . Selain itu dari puncak akan terlihat jelas lokasi telaga-telaga yang ada di gunung ini, juga jika edarkan pandangan akan terlihat sayup sayup dikejauhan berdiri Gunung Talang , Gunung Marapi, Gunung Singgalang dan Gunung Tandikat.

PERIJINAN
Para pendaki diwajibkan untuk membawa bebrapa dokumen sebagai berikut:
*      KTP (siapkan juga photocopynya)
*      Surat ijin dari orang tua (Bagi remaja)
*      Surat dari organisasi (jika berasal dari sebuah organisasi)
Semua surat-surat tersebut diperlihatkan pada petugas posko saat akan mendaki, selain itu Logistik dan perlengkapan akan di cek saat naik dan turun gunung. Setiap pendaki diwajibkan membayar retribusi yang sudah termasuk asuransi dan biaya administrasi sebesar Rp.5.000,-
LARANGAN
Berikut adalah larangan-larangan yang berlaku di gunung ini:
* Tidak dibenarkan merusak flora dan fauna
* Tidak dibenarkan membawa Tape recorder, radio, gitar dan alat-alat musik lainnya
* Tidak dibenarkan membawa sabun atau bahan-bahan yang bisa mencemari sumber air
* Tidak dibenarkan membawa dan meminum minuman keras jenis apapun
* Didalam perjalanan maupun didalam suaka gunung tidak diijinkan berpencar-pencar
* Tidak diijinkan pendaki putra dan putri tidur dalam satu tenda apapun bentuk kegiatannya
* Tidak boleh berteriak-teriak atau bernyanyi-nyanyi keras
* Tidak boleh menyalakan api didarah yang rawan kebakaran
* Tidak boleh memasuki kawasan telaga seperti mandi, mencuci, dan lain sebagainya. Kecuali mengambil air untuk minum dan memasak
* Dilarang keras melakukan tindakan mencoret bebatuan, pepohonan dan tindakan vandalisme lainnya
* Dilarang keras membuang kotoran disembarang tempat
* Setiap pendaki harus menghormati adat istiadat setempat.
* Para pendaki diwajibkan membawa turun kembali sampah yang dihasilkan oleh mereka
* Pendaki harus mematuhi lama ijin pendakiannya
* Melaporkan kejadian atau kerusakan lainnya pada petugas lapangan atau posko.

LOKASI MENARIK
Ada banyak sekali tempat-tempat menarik yang bisa kita kunjungi di gunung ini, objek-objek alam itu tersebar di gunung Talamau ini, diantaranya:
* Air terjun Puti Lenggo Geni yang tingginya mencapai 109 meter
* Padang Sirinjano, sebuah padang rumput yang berada di ketinggian 2640m dpl seluas 40 hektar yang dihuni oleh Rusa, Kijang, Kambing hutan dan Tapir.
* Terdapat beberapa buah telaga yang dalam bahasa setempat disebut dengan Talago, jumlah normalnya adalah 13 buah telaga dan kebanyakan pendaki terkadang menemukannya dalam jumlah yang berbeda-
beda, mungkin ini disebabkan oleh banyak sedikitnya kandungan air di
gunung ini. Ke 13 telaga itu yaitu:
*    Talago Puti Sangka Bulan
*    Talago Tapian Sutan Bagindo
*    Talago Tapian Puti Mambang Surau
*    Talago Siuntuang Sudah
*    Talago Puti Bungsu
*    Talago Rajo Dewa
*    Talago Satwa
*    Talago Lumuik
*    Talago Biru
*    Talago Mandeh Rubiah
*    Talago Imbang Langik
*    Talago Cindua Mato
*    Talago Buluah Parindu
*    Ada kawag belerang
*    Ada lima puncak yang tersebar dikawasan puncak gunung ini
*    Ada empat goa yang berada didaerah puncak gunung Talamau
*    Sedangkan dikaki gunung ada objek wisata historis berupa Batu Balipek kain yang berada dikaki Gunung Pasaman didesa Aia Maruek Kinali.

Semuanya berawal ketika dahulunya nenek moyang kita yang berasal dari kaki Gunung Merapi tepatnya daerah Pariangan (daerah tertua di Minangkabau) yang terletak di daerah Batusangkar, sedang melakukan perjalanan untuk menambah daerah kekuasaan atau pergi “merantau”. Karena sudah menjadi adat atau kebiasaan yang turun temurun bagi orang Minangkabau asli, khususnya bagi kaum laki-laki. Bagi mereka merantau menjadi suatu kebanggaan tersendiri karena apabila nantinya mereka berhasil/sukses di rantau tersebut, bisa mengangkat derajat keluarga yang di tinggalkan, termasuk daerah asalnya.

Selama perjalanan inilah mereka menemukan sebuah daerah yang di kelilingi oleh lembah dan memiliki pemandangan yang indah, daerah yang subur dan banyak di tumbuhi oleh berbagai pepohonan, sehingga terlontar kata-kata “nagari nan elok” oleh para perantau tersebut. Dari situlah daerah ini di kenal dengan nama “Solok”. Namun secara harfiah, Solok sebenarnya diartikan sebagai daerah lembah yang di kelilingi oleh bukit.

Karena merasa sudah mendapatkan daerah baru, maka mulailah banyak berdatangan perantau-perantau lainnya ke daerah tersebut, seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, maka daerah ini berkembang pesat, hal ini di dukung dengan tanah yang subur dan cocok untuk menanam padi. Sehingga daerah ini juga terkenal dengan “Beras Solok”nya yang bisa membangkitkan selera makan.

Karena pertumbuhan penduduknya yang semakin pesat, warga Solok sendiri juga banyak yang merantau lagi ke daerah lain. Dan sekarang Solok termasuk salah satu kota di Provinsi Sumatera Barat

Catatan yang mengisahkan sejarah nagari Saniangbaka sangat sedikit ditemukan. Dalam banyak tambo dan buku-buku yang berkaitan dengan Minangkabau, tidak banyak yang mencatat sejarah ini. Salah satu yang memuat sejarah Saniangbaka adalah dalam Mahmoed (1978). Disebutlah suatu masa Datuk Katumenggungan mendirikan sebuah kerajaan bernama Bungo Setangkai yang berpusat di Sungai Tarab. Mula-mula perkembangan kerajaan ini adalah membuat kubu pertahanan kerajaan dan untuk membuat lingkaran pertahanan ini Datuk Katumenggungan menugaskan seorang hububalang pemberani dari Pariangan Padang Panjang untuk menjadi kepala pertahanan. Hulubalang ini kemudian ditugaskan untuk membuat pertahanan kerajaan, yang mula-mula membuat sebuah nagari bernama Batipuh. Setelah Batipuh, kemudian hulubalang ini membuat 10 koto yaitu bentuk suatu daerah, sebelum menjadi nagari, yang penduduknya sudah banyak meski tinggal berjauhan tetapi sudah mulai berinteraksi secara intensif di suatu tempat. Koto-koto tersebut terdiri dari Paninjauan, Gunung, Jao, Tambangan, Singgalang, Pandai Sikek, Koto Laweh, Koto Baru, Aia Angek, Panyalaian. Setelah kesepuluh koto itu selesai, hulubalang tersebut membuat kubu pertahanan ke arah timur dengan 10 daerah pula yaitu Sungai Jambu, Labuatan, Simawang, Bukit Kandung, Sulit Aie, Tanjung Balit, Singkarak, Saniangbaka, Silungkang dan Padang Sibusuk (Mahmoed, 1978:37-38). 

Pada masa kerajaan Pagaruyung, kesepuluh daerah pertahanan yang ada di timur ini menjadi bagian dari langgam nan tujuah. 
 
Langgam nan tujuah merupakan sebutan bagi tujuh pihak yang membantu pelaksanaan pemerintahan kerajaan pagaruyung di bawah kepemimpinan Raja Alam. Adapun langgam nan tujuah ini terdiri dari:
  1. Pamuncak Koto Piliang, berkedudukan di Sungai Tarab, sebagai pimpinan.
  2. Harimau Campo Koto Piliang, berkedudukan di Batipuh, sebagai panglima perang.
  3. Pardamaian Koto Piliang, berkedudukan di Simawang dan Bukit Kandung, sebagai pendamai nagari-nagari yang bersengketa.
  4. Pasak Kungkung Koto Piliang, berkedudukan di Sungai Jambu dan Labuatan.
  5. Carmin Taruih Koto Piliang, berkedudukan di Saniangbaka dan Singkarak, sebagai badan penyidik.
  6. Cumati Koto Piliang, berkedudukan di Sulit Aie dan Tanjung Balit, sebagai pelaksana hukuman.
  7. Gajah Tonggak Koto Piliang, berkedudukan di Silungkang dan Padang sibusuk, sebagai kurir (Navis, 1984: 57-58; baca juga Mahmoed, 1978: 52-60).
Dalam langgam nan tujuah Saniangbaka merupakan carmin taruih koto piliang. Menurut salah seorang tukang dendang di Saniangbaka, arti carmin taruih Koto Piliang dapat dilihat secara harfiah dari kata-katanya, yaitu carmin yang berarti cermin. Cermin biasanya memberikan pandangan tentang sesuatu. Carmin taruih Koto Piliang bisa jadi berfungsi sebagai tempat yang dijadikan pandangan/contoh nagari lain tentang pelaksanaan kelarasan Koto Piliang. Sementara itu, menurut salah seorang penghulu yang juga tokoh Kerapatan Adat Nagari adalah sebagai berikut: 

"Mangko Saniangbaka ko tasabuik carmin taruih Koto Piliang, baduo itu, sorang orang Singkarak, sorang orang Saniangbaka, diagiah pangkat artinyo kadudukannyo sebagai carmin taruih Koto Piliang. Tugasnyo apobilo ado persengketaan di Pagaruyuang, di Pariangan Padang Panjang, ndak ado penyelesaiannyo, mangko dihimbaulah urang nan baduo ko, artinyo inyo lah nan maagiah carmin, pengarahan. Jadi orang nan basangketo, nan basalisiah nan ndak kunjung dapek perdamaian, nah dari 2 urang nan pai ka Pagaruyuang ko nan maagiah carmin atau pedoman."
"Sebab Saniangbaka disebut Cermin terus Koto Piliang, (yang) berdua itu, seorang (dari) Singkarak, seorang (dari) Saniangbaka, diberi pangkat artinya kedudukannya sebagai cermin terus Koto Piliang. Tugasnya apabila terjadi persengketaan di Pagaruyuang, di Pariangan Padang Panjang, (dan) tidak ada yang bisa menyelesaikan, maka dipanggilah orang yang berdua tadi. Artinya ialah orang yang memberi cermin, pengarahan. Jadi orang yang bersengketa, yang berselisih tidak kunjung mendapatkan perdamaian, dari dua orang tersebut lah yang akan memberi cermin atau pedoman".

Adapun dari daerah pertahanan hingga membentuk sebuah nagari, Saniangbaka mengalami proses yang panjang. Nagari itu sendiri tumbuh mulai dari Taratak. Kata Taratak konon berasal dari tatak, artinya menandai batas-batas pada tebangan kayu dalam membuka lahan oleh seorang yang dibantu oleh anak-anaknya atau berkelompok tiga atau lima orang. Pada lahan yang telah ditatak (ditandai) itu mereka membangun pondok untuk tempat berteduh atau tinggal. Kemudian datang lagi kelompok lain dengan maksud yang sama yaitu untuk membuka peladangan. Kemudian setelah beberapa taratak terbuka dengan pondok-pondok atau rumah-rumah kecil, maka berdirilah dusun ditempat tersebut. Dari beberapa taratak yang lain berdiri pula dusun sehingga menjadi beberapa dusun. Setelah penduduk dusun tersebut menjadi ramai, maka berdirilah koto. Ada yang mengatakan koto mulanya berarti sebuah tempat yang dipagari dengan tanaman aur (bambu) serta parit, tetapi kemudian tempat tersebut menjadi area tempat bermain anak-anak atau tempat berkumpul melepas lelas penduduk setempat. Seiring waktu, tempat tersebut menjadi tempat bertemu antar penduduk, tempat berbincang-bincang dan semacamnya. Dari berbagai perbincangan dan perundingan beberapa anggota dusun maka bersepakatlah untuk membuat suatu nagari (Rais, 2003: xxiii-xxiv; baca juga Suarman, 2000:52-57; Amir MS, 1997 ). 

Ini sesuai dengan informasi yang di sampaikan salah seorang tokoh penghulu Saniangbaka, yaitu sebagai berikut: 

"Datanglah orang-orang baik melalui bukik, nyebrang danau jo sampan, tibo disiko nyo marambah. Nah itu namonyo Taratak. Itu memakan wakatu puluhan taun, Piak. Sudahlah salasai Taratak, makonyo banamo susun atau dusun, artinyo mulailah tasusun. Iko lah buek pondok, iko lah buek pondok, iko pondok (sambil menunjukkan pola sejajar dengan tangan). Mulai tasusun memakan wakatu nan panjang pulo, puluhan taun, menjadi koto. jadi Taratak-susun-koto. Koto ko lah mulai orang nan penghuni ko bakato-kato. Koto itu artinyo mulai berkato-kato atau berbincang baa kito, iko lah bakambang lo, lah ado rumah.
Salasai Taratak, lah salasai susun, lah salasai koto, meningkatlah jadi nagari. A..jadi nagari dibuek lah balai-balai, sudah tu dibangunlah surau namonyo, masajik kecek urang. Jadi kok lah sah nagari ko, ado balai-balai, ado musajik, ado basuku, batungganai rumah, ado bapandam pakuburan"

Datanglah orang-orang baik melalui bukit, menyeberangi danau dengan sampan. Sesampainya disini, mereka merambah (hutan). Nah, itu yang dinamakan Taratak. (Proses) itu memakan waktu puluhan tahun, piak. Sesudah selesai Taratak, maka bernama susun atau dusun, artinya mulailah tersusun. (Yang) ini telah membuat pondok, (yang) ini telah membuat pondok, ini telah membuat pondok (sambil menunjukkan pola sejajar dengan tangan). Mulai tersusun memakan waktu yang panjang pula, puluhan tahun, menjadi koto. Jadi Taratak-Dusun-Koto. (Saat menjadi) Koto ini mulailah penghuninya berkata-kata atau berbincang-bincang, bagaimana kita, ini sudah berkembang, sudah ada rumah. Setelah taratak, setelah susun, setelah koto, meningkatlah nagari. Aa..jadi nagari dibuat balai-balai, sesudah itu dibagunlah surau namanya, kata orang mesjid. Jadi kalau sudah syah menjadi nagari, ada balai adat, ada mesjid, ada bersuku, ber-tungganai rumah, ada ber-pandam pekuburan. 
Dari informasi yang didapat dari beberapa informan di Nagari Saniangbaka, terdapat beberapa versi sejarah penamaan nagari ini. Dari beberapa versi yang berkembang, dari tiga versi cerita terdapat satu kesamaan yaitu bahwa kemunculan nama Saniangbaka adalah saat para penghulu ini berunding untuk menentukan nama yang akan dipakai oleh nagari, nama tersebut merujuk pada saat nagari ini masih di taruko, yaitu pada masa masih berbentuk taratak. Berikut tiga versi tersebut:
  1. Versi "si Saniang nan tabaka"
Menurut informasi yang didapat dari Nadir Pono Sutan (60) dan YF Rajo Mangkuto (29), Nama Saniangbaka berasal dari peristiwa terbakarnya si Saniang ketika dia dibawa orang tuanya merambah hutan untuk membuka nagari tersebut. Diceritakan bahwa ketika orang tua si Saniang merambah hutan, mereka menumpuk hasil rambahan di suatu tempat yang ternyata berdekatan dengan tempat mereka meletakan Saniang, anak mereka. Ketika tumpukan hasil rambahan telah banyak, mereka membakarnya. Namun karena dekat dengan tempat si Saniang ditidurkan, api menjalar membakar si Saniang. Orang tua si Saniang pun panik dan berteriak, "si Saniang tabaka!!! Si Saniang tabaka!!". Meski tidak terdapat kejelasan tentang terbakarnya si saniang ini, sejak saat itu tempat yang dirambah tersebut dinamai Saniang tabaka yang lama-kelamaan menjadi Saniangbaka.
  1. Versi "si Saniang mambaka"
Sementara itu menurut informan lain menyebutkan nama Saniangbaka muncul karena orang yang dari jauh melihat asap pembakaran hasil rambahan si Saniang. Seperti yang di sampaikan oleh salah seorang penghulu Saniangbaka:

"jadi dahulu Saniangbaka ko ado mempunyai sejarah khas. Nan patamo Saniangbaka ko ado dahulu nan banamo Taratak, arti Taratak orang-orang mulai marambah untuk nak mambuek nagari. Itu nyo hanyo berapo kaum dulu nan datang ka ranah ko dari Pariangan. Nah nampak Saniangbaka ko marangah dek inyo. Kito kinlah, rancak sinan kito buek nagari. Yo datanglah nyo kamari ado nan dari Simawang, Kacang, Tikalak. Iko nan tertinggi sinan. Jadi datanglah kamari. Jadi nampaklah seseorang nan lah memanggang artinya membakar rambahan atau nan dirambahnyo, kayu lah masik di panggangnyo, nampaklah asok: 'ah, tu, si Saniang lah mambaka'. Jadi manuruik sejarahnyo nan mulai mambaka rambahan ko si Saniang namonyo.
Saat perundingan datuk nan salapan saat akan menamai nagari ini, ada salah seorang datuk yang mengusulkan
"Manuruik nan didanga dek awak, mulo-mulo nan marambah nagari ko si Saniang ah, nan inyo lo nan mulo-mulo mambaka di nagari ko, mangkasuiknyo mambaka rambahannyo nan lah masik, kalo kito buek namo Saniangbaka baa? maka jadilah Saniangbaka"

Jadi dahulu Saniangbaka ini ada mempunyai sejarah khas. Yang pertama Saniangbaka ini ada dahulu bernama Taratak, arti taratak orang-orang mulai merambah untuk membuat nagari. (Pada saat) itu beberapa kaum yang datang dari Pariangan Padang Panjang. Nah, terlihat Saniangbaka ini meranggas oleh mereka. "Kita ke sana lah, baik disana kita buat nagari". Yaa, datanglah mereka ke sini. Ada yang dari Simawang, Kacang, Tikalak. Ini yang tertinggi di sana. Jadi datanglah ke sini. Jadi terlihat seseorang yang telah membakar, artinya membakar rambahan atau yang dirambahnya. Kayu telah kering dibakarnya, terlihatlah asap, "ah, tu si Saniang telah mebakar". Jadi menurut sejarangnya, yang memulai membakar rambahan ini si Saniang namanya. (Pada) saat perundingan Datuak nan Salapan, saat akan memberi nama Nagari ini, ada salah seorang Datuak yang mengusulkan, "Menurut yang didengar oleh kita, mula-mula yang merambah nagari ini (yaitu) si Saniang. Ah, dia juga yang mula-mula membakar (lahan) nagari ini - maksudnya membakar rambahannya yang sudah kering. Bagaimana kalau kita buat nama nagari ini Saniangbaka?? Maka jadilah (nama nagari ini) Saniangbaka"
  1. Versi Sandiang nan tabaka.
Versi ini menyebutkan bahwa munculnya nama Saniangbaka adalah karena saat daerah ini mulai dirambah, dari jauh yaitu dari Pariangan Padang Panjang nampak ada sandiang atau sudut antara dua bukit yang terbakar.

Sementara itu satu versi sejarah Saniangbaka yang sama sekali berlainan dari tiga versi sebelumnya berpatokan pada arti kata Saniangbaka secara harfiah, kemudian dicari makna yang terkandung di dalamnya. Ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh beberapa informan yaitu salah seorang tukang dendang, salah seorang penghulu Balai Mansiang dan salah seorang warga yang merupakan kemenakan si saniang yang intinya sama, yaitu sebagai berikut:

"Indak ka mungkin Saniangbaka ko asalnyo dari kato si Saniang nan tabaka. Tabaka, istilah minang yang dipakai untuak marujuak ka membakar adalah mamanggang indak mambaka, mambaka itu asalnyo dari bahasa Indonesia nan di minangkan. Membakar-mambaka, itu kini. Kok tabaka nan dipakai wakatu nagari kok ka dibuka, berarti Saniangbaka ko baru ado setelah bahasa Indonesia jadi bahasa nasional, kan? Sementaro, dalam tambo Minangkabau jo cerita dari nan gaek-gaek, nagari ko lah ado sejak 5-6 abad nan lalu. Baa, ndak ado kolerasinyo, kan?"
"tapi kok awak caliak dalam bahasa minang, baka itu bisa jadi artinyo bekal. Sementaro Saniangnyo sendiri asalnyo dari kato sahaniang, yaitu ciek tempat yang sunyi. Jadi Saniangbaka ko maknanyo ciek tempat sunyi nan bisa dijadikan untuk mencari bekal hiduik. Baa model itu? Iko arek kaitannyo jo langgam nan tujuah, bahwa nagari ko dijadian carmin taruih Koto Piliang."

"Tidak mungkin Saniangbaka ini asalnya dari kata si Saniang yang tabaka. Tabaka, istilah Minang yang digunakan untuk merujuk kata membakar adalah mamanggang, bukan membakar. Membakar itu asalnya dari bahasa Indonesia yang di-Minang-kan. (kata) membakar - mambaka itu (digunakan) sekarang. Kalau tabaka yang digunakan waktu nagari ini dibuka, berarti Saniangbaka ini baru ada setelah Bahasa Indonesia jadi bahasa nasional kan ?? Sementara dalam tambo Minangbakau ditambah cerita dari orang tua, nagari ini telah ada sejak 5-6 abad yang lalu. Bagaimana, tidak ada korelasi nya kan ?"
"Tapi kalau kita lihat dalam bahasa Minang, baka itu bisa jadi artinya bekal. Sementara Saniang sendiri asalnya dari kata Sahaniang, yaitu satu tempat yang sunyi. Jadi Saniangbaka ini maknanya (adalah) satu tempat sunyi yang bisa dijadikan untuk mencari bekal hidup. Kenapa seperti itu ? ini erat kaitannya dengan langgan nan tujuah, bahwa nagari ini dijadikan carmin taruih Koto Piliang."

Painan memang hanya sebuah lekuk. Sekitar tahun 1700-an pelaut-pelaut Bugis banyak berdatangan ke sini. Bermukim, menciptakan hidup. Ada beberapa yang kimpoi dengan penduduk asli. Di Painan akan kita temukan beberapa orang peranakannya.

Mungkin saja. Karena Painan-dan beberapa kota kecil lain di Pesisir itu seperti Salido dan Indrapura yang terletak lebih ke selatan memang terkenal sebagai Bandar-bandar transit sejak dahulu. Di lepas
pantai Samudra Hindia, di pulau cingkuk misalnya ada berdiri sebuah benteng Belanda.

Pelaut-pelaut Bugis yang datang ke situ punya kapal-kapal besar, bagan dan pukat yang lebih mutakhir. Nelayan-nelayan pribumi kalah saing. Dan di sekitar tahun 70-an itu pelaut-peluat Bugis yang terkenal handal itu mulai menyusut kehadirannya di kota kecil itu.
Dan bahkan mulai terkikis habis. Entah peristiwa apa yang menyertainya. Beberapa orang mencatat, ada bentrok terjadi. Kapal-kapal Bugis dibakar penduduk asli di lepas pantai.

Walaupun begitu, Painan tetap menawan dengan alamnya yang elok. Tapi Painan, kota kecil yang menawan itu, acap tak banyak memberi peruntungan. Seperti daerah lain di ranah ini banyak orang yang bertolak. Meninggalkan keindahan dan keelokan itu. Seperti sajak Takdir, "aku tinggalkan tasik yang tenang tiada beriak".

Painan memang kota yang tenang. Ombak pantainya lembut tak berdebur
seperti ombak Pantai Purus. Mungkin lebih tepatnya kota ini lamban.
Ia mendekati kota mati. Di hari sabtu, kota ini akan tambah sepi.
Anak-anak sekolah biasanya telah pulang ke daerah-daerah pinggiran
painan. ke Bayang, Tarusan, Batangkapeh, Kambang, Belaisalasa, ...

Menurut tukang kaba, sebutan dalam bahasa Minangkabau bagi penutur cerita, dalam salah satu tambo-cerita historis tentang asal-usul dan silsilah nenek moyang orang Minangkabau di Sumatera Barat terdapat sebuah kerajaan Pariangan yang dipimpin oleh Datuak Bandaro Kayo. Ia memiliki saudara seayah bernama Datuak Ketumanggungan dan Datuak Perpatih Nan Sabatang. Suatu hari, kedua saudara ini bertemu Datuak Bandaryo Kayo guna membicarakan masalah kepadatan penduduk di kerajaantersebut. Dalam pertemuan itu disepakati untuk memindahkan sebagian penduduk kerajaan ke daerah permukiman baru.

Setelah mengetahui daerah-daerah yang akan dijadikan permukiman baru, mulailah pemindahan sebagian penduduk ke tiga arah yakni Utara, Barat, dan Timur. Daerah permukiman baru di sebelah Barat kemudian diberi nama Luhak (daerah) Agam. Daerah sebelah Timur dinamakan Luhak Tanah Datar. Sementara itu, Datuak Sri Maharajo Nan Banego memimpin 50 orang menuju ke arah utara, daerah Payakumbuh. Tempat ini kemudian dikenal dengan nama Luhak 50 koto.

Di akhir abad ke 19 seorang pejabat bangsa Belanda pernah menuliskan laporan perjalanannya ke salah satu daerah Pasaman yakni Mapat Tunggul. Dengan gaya bahasanya yang khas ala Belanda dia memulai tulisan laporan tersebut dengan menyuguhkan keadaan alamnya, Pada awalnya daerah tersebut terdiri dari bebukitan yang terbesar tidak ditumbuhi oleh apapun selain ilalang, perbukitan lainnya ditumbuhi hutan. 
Orang dapat menjumpai pohon-pohon yang berat yang tumbuh pada dasar kemerah-merahan, akar-akarnya yang lembab menjalar menghunjam dalam ke jantung bumi, dan memanjat batu-batu kapur serta melekat ke bebatuan yang entah dari jenis apa ; belantara yang tidak dapat ditembus, siapa yang hidup disana, jadi tidak ada tangan manusia yang merintangi pekerjaan alam selama berabad-abad. Lereng-lereng bukit yang bersemak-belukar, yang menunjukkan bahwa orang -orang disana masih belum jauh-jauh mencari makanan mereka, begitulah laporan yang ditulis oleh J.B.Neeumann, setelah ia menjelajahi daerah tersebut.


Mungkin sebagian kita tidak pernah mengira bahwa Pasaman khususnya Rao pernah jadi tambang emas terbesar di daerah Sumatra Westkus pada zaman Belanda. Dobbin menceritakan dalam karyanya Kebangkitan Islam dalam Ekonomi Petani Yang Sedang Berubah, Sumatera Tengah 1784-1847. Keuntungan yang menumpuk pada tua tambang dilukiskan pada tahun 1838 dalam hubungan dengan penggalian kecil dalam tanah luapan banjir di dekat Rao di sebelah utara rantau Minangkabau. Ditempat ini keadaan para pekerjanya jauh lebih baik dari pada pekerja tambang.

Orang-orang yang mencari emas atau pekerja tambang juga dianggap memiliki kekuatan istimewa. Roh-roh yang mendiami tambang emas harus diperlakukan dengan hati hati sekali, dan para pencari emas membentuk suatu perserikatan dan hanya anggota perserikatan yang mengetahui tanda-tanda rahasia emas dan bisa mengucapkan jampi-jampi yang diperlukan untuk berhasilnya upaya penambangan.


Bendera Inggris dinaikkan di Natal pada tahun 1751 oleh para pegawai East India Campany yang berkedudukan di Bengkulen. Dalam usaha untuk mengalahkan pemukiman Belanda di Padang, perdagangan dinyatakan bebas sama sekali dan perdagangan di Natal mendapat dukungan resmi dari Madras. Pada kahir tahun 1750-an perdagangan berkembang seperti belum pernah terjadi sebelumnya ; orang-orang Inggris bersedia membayar lebih tinggi untuk emas Rao daripada Belanda di Padang.


Mereka juga menjual tekstilnya dengan harga lebih murah, mereka tidak cerewet mengenai mutu kamper dan kemenyan yang mereka beli, dan mereka menyediakan garam, mata dagangan yang sangat penting dilembah-lembah dipedalaman tanah Batak dengan harga yang lebih murah daripada harga Batak.


Ujung tombak serangan Minangkabau atas orang-orang Batak adalah Lembah Rao, yang mengikuti Alahan Panjang menerima asas-asas Paderi. Rao memiliki tradisi hubungan yang lama dengan dunia Minangkabau lainnya, dan hasil alamnya membuat sejarah lembah itu berkembang mengikuti alur yang serupa dengan perkembangan daerah-daerah lain di Minangkabau.


Dengan mengabaikan lembah-lembah tertentu lebih selatan, Rao merupakan daerah pertambangan emas yang paling penting di Minangkabau sesudah Alahan Panjang. Perdagangan emas Rao sudah dikenal oleh pedangan-pedagang India sejak awala abad kedua sesudah Masehi. Dan kira-kira tahun 800 sesudah masehi orang-orang India mendirikan pemukiman, baik dilembah maupun di bagian atas sungai Kampar yang kemudian berkembang menjadi pangkalan hulu sungai yang khas untuk perdagangan emas dari Rao.


Pada abad ke 18 amas Rao belum habis dan tetap melancarkan jalannya pergadangan di Selat Malaka, karena perdagangan melalui Patapahan diSiak. Para pengamat Inggris di selat memperkirakan bahwa yang dieksport berjumlah besar, pada tahun 1826 Singapore Choronicle menetapkan nilai emas Rao antara 13.000 dan 14.000 dollar Spanyol per tahun, tetapi inipasti berlebihan. Pedagang emas Rao juga berdagang dipantai barat, dengan membawa emasnya ke Natal, Air Bangis, Pasaman, bahkan sampai jauh ke selatan ke Padang.


Tidak mengherankan, setelah Imam Bonjol menetapkan kekuasaannya di Lembah Alahan Panjang, dia memalingkan matanya ke utara kearah tetangganya yang kaya. Lembah yang panjang dan sempit disebelah lembah menampakkan kemakmuran yang cukup besar. Pada tahun 1830-an Lembah Raodiperkirakan berpenduduk sekitar 25.000 orang, terbagi dalam dua puluhdesa besar dengan dukuhdukuh satelitnya, semua terawat apik dan dikelilingi oleh sawah-sawah luas, kopi juga ditanam disitu .


Sistem politiknya serupa dengan daerah pingiran Minangkabau lainnya, tiap desa dihuni oleh sejumlah suku masing-masing dengan penghulunya, tetapi berlawanan dengan di pedalaman Minangkabau sebuah desa induk dengan anak huniannya juga membentuk semacam federasi dibawah seorang Raja. Dibagian utara lembah, tempat-tempat tambang emas utama di dekat-dekat Rao dan Padang Mantinggi adalah yang paling padat penduduknya, dan disini desa-desa mengakui salah satu rajanya sebagai Yang Dipertuan.

Kota padang dahulunya diperkirakan sebagai dataran atau padang yang luas dan mungkin dari sanalah asal usul nama padang tersebut. Di daerah ini telah bermukim banyak penduduk dengan pusat perkotaan pada saat itu berada di sekitar sungai batang harau. Awalnya wilayah ini merupakan salah satu territory Kerajaan Pagaruyung namun semenjak kedatangan VOC pada abad 17 maka kawasan tersebut tersebut berpindah tangan. Hal ini ditandai dengan dibangunnya loji pada tahun 1667 di sekitar kawasan yang sangat strategis untuk dijadikan pelabuhan kapal.

Dengan keberadaan loji serta aktivitas VOC membuat ruang lingkup penduduk asli mulai terdesak dan praktek penjajahan bangsa baratpun mulai dirasakan oleh masyarakat setempat. Maka pada tanggal 7 Agustus 1669 masyarakat pauah serta koto tangah sepakat untuk menyerang loji – loji Belanda tersebut.


Dengan semangat perjuangan dan persatuan yang tinggi maka daerah tersebut dapat dikuasai dan peristiwa ini diabadikan sebagai hari jadinya kota Padang.